Tampilkan postingan dengan label Dari Keuskupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dari Keuskupan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2011

Surat Gembala Mgr Petrus Boddeng Timang Uskup Keuskupan Banjarmasin Dalam rangka mempersiapkan dan menyambut Sinode Keuskupan.

Para Pastor, Frater, Suster serta Saudara-saudari yang terkasih,

Pada tanggal 19 Oktober 1938 yang lalu Prefektur Apostolik Banjarmasin didirikan. Hal ini menandakan sebuah pengakuannya sebagai sebuah Gereja Katolik Partikular yang mandiri. Maka, nanti pada tahun 2013, Keuskupan Banjarmasin akan merayakan 75 tahun sebagai Gereja Partikular yang mandiri. Usia ke 75 tahun bukanlah usia yang pendek, karena itu inilah saat yang istimewa bagi kita untuk kita rayakan dan menjadikannya sebagai momen untuk merefleksikan perjalanan hidup menggereja kita.

Untuk menyambut 75 tahun berdirinya Prefektur Apostolik Banjarmasin, kita bersama akan mengadakan Sinode Keuskupan. Senode keuskupan adalah himpunan imam-imam dan orang-orang beriman kristiani yang terpilih dari Gereja partikular, untuk membantu Uskup diosesan demi kesejahteraan seluruh komunitas diosesan (KHK kan 469). Ini merupakan kesempatan yang baik untuk melihat dan merefleksikan kembali seluruh kehidupan Gereja di keuskupan kita ini dalam keunggulan dan kelemahannya serta dalam kontribusinya untuk membangun kesejahteraan umum. Setelah itu kita akan mengambil satu tekad yang menjadi arah dasar pastoral yang jelas bagi Keuskupan Banjarmasin dan menjadi derap langkah semua pihak di Keuskupan ini.

Sinode Keuskupan akan dilalui dalam beberapa kegiatan yang meliputi tahap Pra-Sinode, Sidang Sinode, dan Pasca-Sinode. Tahapan Pra-Sinode akan diawali dengan penyebaran angket yang berisi data dan quisioner ke seluruh umat. Data dari quisioner ini akan membantu kita untuk melihat gambaran wajah Keuskupan kita. Gambaran ini nantinya akan diolah dan akan dikembalikan ke Paroki sebagai bahan ber-Sinode pada tingkat Paroki dan pada akhirnya berpuncak pada Sidang Sinode Keuskupan. Hasil dari refleksi bersama ini akan menjadi arah dasar hidup menggereja kita.

Sinode adalah sebuah perayaan iman umat, karena itu keterlibatan seluruh umat sungguh diharapkan. Kami mengimbau para imam, biarawan-biarawati dan segenap umat beriman di Keuskupan Banjarmasin, agar berdoa bagi keberlangsungan dan kesuksesan sinode ini, dan terlibat secara aktif mengikuti segala kegiatan dan proses dalam perencanaan dan pelaksanaan sinode ini.

Mari kita meneladan jiwa dan semangat hidup Gereja Perdana. “Dengan bertekun dan sehati mereka berkumpul” (Kis 2:46). “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan” (Kis 2:42). Ketekunan, kesehatian, dan persekutuan kiranya menjadi jiwa kita semua di dalam bersinode. Kita ingin meneladan Gereja perdana yang bertekun dalam pengajaran, merenungkan bersama, berdoa bersama, dan melaksanakannya bersama. Dalam kesadaran bahwa kita adalah satu persekutuan, kita akan berproses bersama dengan satu hati dan satu tubuh (1Kor 10:17).

Akhirnya, bersama Bunda Maria yang hari ini kita rayakan bersama, kita berseru, “Bicaralah ya Tuhan, hambaMu mendengarkan”. Semoga di dalam berproses bersama ini kita sungguh menghadirkan Gereja yang mendengarkan, sehingga pada akhirnya nanti kita dapat menghadirkan Gereja yang sungguh menjadi kota di atas gunung dan cahaya di atas kaki dian bagi dunianya (Mat 5:13).

Selamat bersinode, Tuhan memberkati.



Banjarmasin, 14 Agustus 2011
Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke Surga


† Mgr Petrus Boddeng Timang
Uskup Keuskupan Banjarmasin

Kamis, 10 Maret 2011

Surat Gembala Prapaskah 2011: MENJADI MANUSIA SEJATI SEPERTI YESUS



Kepada Para Imam, Biarawan-biarawati dan seluruh Umat Keuskupan Banjarmasin di mana pun mereka bertempat tinggal,

Salam sejahtera bagi Anda sekalian,

1. Masa Puasa atau Masa Prapaskah tahun ini dimulai pada hari Rabu Abu tanggal 9 Maret 2011 dan berakhir pada hari Minggu Paskah 24 April 2011. Masa untuk memenuhi kewajiban menyambut komuni pada Masa Paskah (perintah kelima dari “Lima Perintah Gereja”) berakhir pada hari raya Tritunggal Mahakudus tanggal 19 Juni 2011. Tema Masa Prapasakah 2011 ini ialah ”Pemberdayaan Kesejatian Hidup: Kesejatian Dalam Mewujudkan Diri”. Dengan tema ini dibulatkanlah rangkaian tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang digumuli sejak tahun 2007 yaitu berturut-turut mengenai pemberdayaan hidup bersama dalam masyarakat, dalam komunitas, dalam keluarga dan dengan lingkungan hidup. Masyarakat, komunitas dan keluarga akan berdaya, hubungan dengan lingkungan hidup akan serasi, bersifat memelihara dan membangun apabila setiap pribadi kristiani menjadi insan yang memberdayakan dirinya, yang menyadari dan bangga akan martabatnya.

2. Selama Masa Prapaskah ini kita mengikuti pendalaman iman, membina sikap tobat, berpuasa dan berpantang, beramal kasih dan lebih tekun lagi dalam doa-doa kita. Semuanya untuk semakin menyadari dan mewujudkan jati diri kita yang sesungguhnya yaitu sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi yang diciptakan “menurut gambar-Nya” (Kej 1: 27) dan ditetapkan sebagai wali-Nya untuk menguasai, mengatur dan memelihara makhluk ciptaaan lainnya (Kej 1: 28; 2: 20). Martabat manusia yang sudah sedemikian luhur itu menjadi semakin paripurna dengan pembaptisan yang olehnya kita diangkat menjadi “anak-anak Bapa di sorga” (Mat 5: 45) dan karenanya dijelmakan oleh-Nya sebagai “bait Allah” dan “kediaman Roh Kudus” (1 Kor 3: 16)! Manusia dengan jati diri semulia itu dipanggil untuk menjadi “sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat 5: 48).

3. Kita patut bangga dan berbesar hati dengan martabat kristiani itu dan karenanya selalu tampil penuh percaya diri dan sukacita di mana pun dan kapan pun. Bagaimana mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga, komunitas gerejawi dan masyarakat umum? Ada berbagai macam cara. Pertama-tama dengan mengikuti Yesus dan menjadi murid-Nya yang setia dan bergaul secara mesra dengan-Nya setiap hari dalam penerimaan Sakramen-sakramen, doa-doa baik bersama mau pun secara pribadi dan dalam pengamalan kasih baik antar pribadi mau pun dalam komunitas. Siapa bergaul dengan Yesus akan memantulkan sinar kemuliaan Yesus dari wajahnya dan akan mengamalkan kasih-Nya dengan tekun dan penuh sukacita. Orang yang dengan setia mendengarkan Sabda Yesus akan semakin erat bersatu dengan-Nya dan semakin menikmati kebersamaan dengan Yesus dalam penerimaan Sakramen-sakramen khususnya Ekaristi dan Sakramen Tobat. Manusia yang mendengarkan sabda Yesus, menjadi anak Allah. Ia berubah rupa! Dalam dirinya, egoisme diganti dengan kasih, kesedihan dengan sukacita, kegelisahan dengan kedamaian, amarah dengan kesabaran, sifat cuek acuh tak acuh dengan kepedulian dan perhatian, ingkar janji dengan kesetiaan, kekerasan dengan kelemahlembutan, nafsu liar dengan pengendalian diri. Wajah Yesus yang berubah di atas gunung (Mrk 9: 3) adalah gambaran wajah setiap orang beriman yang berubah karena mengikuti Yesus dengan tekun dan setia sampai akhir. Wajah manusia beriman memantulkan wajah Yesus dan wajah Yesus pada gilirannya memantulkan wajah Allah Bapa sendiri!. Sungguh indah jati diri kita sebagai orang beriman kristiani.

4. Akhir-akhir ini masyarakat kita didera dengan banyaknya pertikaian, permusuhan dan bahkan konflik berdarah. Salah satu penyebabnya ialah semakin tegasnya perbedaan mencolok antara kelompok masyarakat yang sudah menikmati berkat dari Ibu Pertiwi dan Tanah Air yang kaya raya dan sebagian anggota masyarakat yang masih terpuruk dalam kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan. Antara mereka yang dengan mudah memperoleh secara berlimpah-limpah hasil-hasil pembangunan dan sebagian rakyat yang makin terpinggirkan bahkan sering tertindas tanpa kemampuan, daya dan kesempatan untuk lepas dari lilitan jerat kemiskinannya. Muncullah di tengah masyarakat rasa tidak puas yang tinggi yang pada gilirannya membuahkan kecurigaan, kecemburuan bahkan kedengkian antar kelompok yang pada gilirannya dengan mudah melahirkan konflik, perselisihan, amuk massa, tawuran yang tidak jarang berdarah-darah. Sebagai warga Negara dan warga masyarakat, kita terpanggil untuk ikut serta bersama dengan segala unsur masyarakat dan anak bangsa lainnya untuk mencarikan solusi bagi persoalan-persoalan yang timbul di tengah-tengah bangsa dan masyarakat kita. Kita harus menjadi bagian dari solusi dan bukan bagian dari persoalan bangsa dan masyarakat.

5. Jati diri murid-murid Yesus mewajibkan kita untuk mendobrak setiap lingkaran kejahatan termasuk permusuhan, penindasan dan pengucilan terhadap pihak yang lemah dengan perbuatan kasih. Hidup bersama dalam keluarga, komunitas atau masyarakat seringkali ditandai dengan kekerasan. Bahasa yang dipakai adalah “pihak yang kuat terhadap yang lemah”, “pemenang atas pecundang”, “kebencian dibalas dengan kebencian”, “kekerasan dilawan dengan kekerasan”. Yesus, Manusia sejati, merintis jalan bagi para pengikut-Nya dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian dengan menunjukkan kasih kepada orang-orang yang menindas, membenci bahkan mengancam kita. Dengan berlaku kasih, juga kepada orang-orang yang memusuhi kita, kita mewujudkan dan membuktikan bahwa kita adalah “anak-anak Bapa di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5: 45). Manusia sejati, anak-anak Allah, murid-murid Yesus selalu mencoba mengatasi kejahatan dengan kebaikan, melawan kebencian, penindasan dan permusuhan dengan kasih! Bagaimana cara melakukannya sangat ditentukan oleh situasi konkrit yang dihadapi. Itulah yang menjadi pergumulan dan bahan pendalaman kita selama Masa Prapaskah.

Selamat menjalani Masa Prapaskah yang penuh rahmat ini dalam semangat tobat dengan laku tapa dengan berpuasa dan berpantang, dengan doa dan amal kasih. Tuhan memberkati kita semua!

Diberikan di Banjarmasin pada Pesta Takhta Santo Petrus Rasul, 22 Februari 2011

+PETRUS BODDENG TIMANG
Uskup Keuskupan Banjarmasin

Kamis, 26 Februari 2009

PERATURAN PANTANG DAN PUASA 2009

1.   Hari Puasa tahun 2009 ini dilangsungkan pada hari Rabu Abu tanggal 25 Februari, dan Jumat Agung tanggal 10 April. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaskah sampai dengan Jumat Agung.

2.   Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berumur 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berumur genap 14 tahun ke atas.

 

3.   Puasa dalam arti yuridis, berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang dalam arti yuridis, berarti memilih tidak makan daging atau ikan atau garam, atau tidak jajan atau merokok.

      Karena peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka kami anjurkan, agar secara pribadi atau bersama-sama, misalnya oleh seluruh keluarga, atau seluruh Iingkungan, atau seluruh wilayah, ditetapkan cara puasa dan pantang lebih berat, yang dirasakan Iebih sesuai dengan semangat tobat dan matiraga yang ingin dinyatakan. Tentu saja ketetapan yang dibuat sendiri tidak mengikat dengan sanksi dosa.

 

4.   Hendaknya juga diusahakan agar setiap orang beriman kristiani baik secara pribadi maupun bersarna-sama mengusahakan pembaharuan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, latihan rohani, ibadat jalan salib, meditasi, dan sebagainya.

 

5. Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaskah ialah Aksi Puasa Pembangunan atau APP, yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak pembaharuan pribadi, serta mempunyai nilai dan dampak peningkatan solidaritas pada tingkat paroki. keuskupan dan nasional.


Sumber: Media Keuskupan, Februari 2009



SURAT GEMBALA PRAPASKAH TAHUN 2009


Pemberdayaan Kesejatian Hidup

“Pemberdayaan Hubungan antar Umat Beriman”


Salam dan Berkat Apostolik!

 

Bapa-Ibu, saudara-saudari, 

Para Pastor, suster, bruder dan Frater serta seluruh umat di Keuskupan Banjarmasin yang terkasih.

 

1.       Kita baru saja menyelesaikan Muskerpas yang membicarakan beberapa hal yang perlu untuk arah dan rencana kerja kita ke depan, terutama untuk tahun 2009 ini. Di dalamnya diperhatikan masalah perutusan ke daerah Meratus yang menantang kita sebagai satu komunitas untuk terlibat membantu saudara-saudara kita yang “jauh” baik secara geografis maupun secara sosial budaya. Masalah kemiskinan, kesehatan, pendidikan dan terutama mendampingi mereka dalam memperjuangkan hak-hak mereka sebagai warganegara menjadi suatu perkerjaan yang mau tidak mau harus melibatkan semua pihak, mulai dari Komisi-komisi yang menjadi perangkat kerja keuskupan, kelompok-kelompok kategorial, kaum religius dan semua paroki serta seluruh umat.


 2.       Demikian juga dengan masalah kesehatan pada umumnya khususnya rencana program pemberantasan malaria dan HIV AIDS  yang menjadi sorotan dunia saat ini di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Selatan. Salah satu keputusan Muskerpas mengajak kita juga untuk terlibat, bukan saja karena kita berada di sini, tetapi terutama sebagai wujud kepedulian kita terhadap penderitaan sesama dan sedapat mungkin membantu banyak orang keluar dari jerat penderitaan tersebut.


 3.       Bukanlah suatu kebetulan bahwa tema APP kita tahun ini mengajak kita merefleksikan hubungan kita sebagai umat beriman yang berada ditengah-tengah kemajemukan. Kemajemukan ini menjadi suatu berkat bagi semua pihak yang terbuka dan berkehendak baik, karena dengan ini kita akan semakin diperkaya. Kita semua menghadapi masalah yang sama, masalah kemiskinan dan pemiskinan, masalah ketidakadilan dan lingkungan hidup, masalah saling curiga dan mementingkan kelompok, maka kita diajak untuk terbuka dan berani mengasihi, bahkan terutama mereka yang membenci kita (lih. Luk 6:32). Dengan mengasihi maka menjadi nyatalah bahwa kita mengenal Allah yang adalah kasih, sebab “barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah” (1 Yoh 4:8).


 4.       Dalam kasih itulah kita mau dan terbuka untuk bekerja sama dengan semua pihak, bukan saja ini akan meringankan pekerjaan kita satu sama lain, tetapi terutama rahmat yang tersembunyi di balik itu ialah kita akan semakin menyadari bahwa kita semua adalah saudara, dan bahwa kita saling membutuhkan dan dengan demikian kesejatian hidup yang didambakan semua orang akan menjadi semakin nyata, yakni sebagai citra Allah.


 5.       Rabu (25/02) adalah Hari Rabu Abu. Pada hari itu kita memasuki masa Prapaskah, masa puasa dan pantang. Kita ingin menjalani masa puasa dan pantang ini secara benar. Memang berpuasa dan berpantang menyangkut hal mengurangi makan dan minum. Namun intinya adalah pertobatan, kembali kepada Tuhan dan jalan-Nya serta mencari kesempatan untuk mewujudkan iman kita dalam bentuk-bentuk yang sesuai dengan tanda-tanda jaman. Salah satu tanda jaman yang amat jelas sekarang ini adalah rusaknya persaudaraan yang sejati. Hal ini mungkin akan diperparah menjelang dan selama pemilihan umum yang akan datang. Karena itulah dalam rangka Aksi Puasa Pembangunan, pada lingkup nasional tahun ini, kita diajak untuk mendalami tema “Kesejatian Hidup Dalam Pemberdayaan Hubungan antar Umat beriman”. Pada lingkup Keuskupan kita, kita diajak mengembangkan pemikiran dan gerakan “siap diutus membawa kasih.” Pertama-tama diutus “ke dalam Komunitas” untuk mengalami kasih Tuhan, dan kemudian “ke luar” membawa kasih itu ke dunia yang membutuhkannya.


 6.       Kesempatan ini juga menjadi kesempatan bagi kita selama masa Prapaska untuk mempersiapkan diri kita menyambut perayaan Paskah, perayaan dasar iman kita. Sambil merenung dan refleksi kita membangun niat untuk melakukan yang lebih baik lagi bagi Tuhan dan sesama, maka hasil APP yang kita kumpulkan menjadi wujud nyata niat baik kita itu, yang nanti setelah dikumpulkan akan dikirimkan 30% ke KWI dan 70% untuk menunjang rencana kerja kita ke Meratus dan peningkatan sosial ekonomi mereka yang sangat membutuhkannya.


 7.       Akhirnya, saya mengajak agar sejauh mungkin Bapak/Ibu/Para Pastor/Suster/ Bruder dan Saudara sekalian ikut hadir dan terlibat dalam pertemuan-pertemuan di Komunitas masing-masing dalam rangka masa Prapaskah ini. Semoga dengan demikian persaudaraan semakin diteguhkan. Yang karena berbagai alasan tidak mungkin hadir dalam pertemuan-pertemuan seperti itu, diharapkan juga dapat mengisi masa penuh rahmat m secara kreatif. Terima kasih atas segala bentuk peran serta dan keterlibatan dalam pelayanan di paroki maupun di Keuskupan. Berkat Tuhan melimpah untuk keluarga-keluarga dan komunitas kita. Dan semoga Tuhan meneguhkan persaudaraan pekerjaan, pengabdian dan seluruh niat-niat baik kita.

 

Banjarmasin,  25 Februari 2009


 Mgr. Petrus Boddeng Timang

Uskup Keuskupan Banjarmasin