Kamis, 04 Desember 2008

KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN


Berdasarkan agenda keuskupan Banjarmasin, kursus persiapan perkawinan di bulan November ini dilaksanakan di Paroki Kelayan. Kursus yang dilaksanakan pada tanggal 29 November sampai dengan 1 Desember 2008 tersebut diikuti oleh 10 pasang plus 1 orang peserta dari paroki Kelayan, Katedral dan Veteran. Tujuan dari kursus persiapan perkawinan adalah membekali calon mempelai untuk dapat memahami arti dan makna perkawinan secara umum dan memahami kekhasan perkawinan Katolik sehingga diperoleh wawasan yang mendalam tentang ajaran Gereja Katolik mengenai perkawinan.
Materi yang diberikan meliputi Theologi dan Hukum Gereja dalam Perkawinan oleh Romo Lioe Fut Khin, Gender dan Pendidikan Nilai dalam Keluarga oleh Ibu Ida Harino, Pengaturan Keuangan Rumah Tangga oleh Bp. Andreas Sunarko, Seksualitas oleh Bp. A. Suharjo, Doa dan Sharing Kitab Suci dalam Keluarga oleh Kel. Antonius DN, Relasi dan Komunikasi dalam Perkawinan oleh pasutri Siauw Siauw-Gunadi serta Keluarga Berencana dan Kesehatan Keluarga oleh dr. Wina Kartika. Kursus ditutup pada tanggal 1 Desember 2008 oleh Romo Allparis dengan pembagian sertifikat kepada seluruh peserta. (smr)

Senin, 17 November 2008

PERAYAAN EKARISTI PERPISAHAN DENGAN MGR. FX PRAJASUTA, MSF

Sebelum meninggalkan Keuskupan Banjarmasin menuju tempat tinggalnya yang baru di Wisma Ventimiglia di Jl. Colombo No. 6 Yogyakarta, Bp Uskup Emeritus, Mgr. FX Prajasuta berkenan mempersembahkan perayaan ekaristi Minggu pagi pada tanggal 16 November 2008 di paroki Kelayan. Romo Allparis yang mendampingi Mgr. FX Prajasuta mengatakan bahwa perayaan ekaristi pada pagi itu adalah untuk bersyukur atas karya Mgr. FX Prajasuta yang selama 25 tahun telah mendampingi umat di Keuskupan Banjarmasin sekaligus untuk pamitan.
Dalam homilinya, Mgr. FX Prajasuta mengajak umat untuk mensyukuri kebaikan Allah. Merenungkan perayaan ekaristi atau perayaan syukur merupakan waktu hening yang sangat baik untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Melihat perkembangan paroki Kelayan dari masa ke masa, tentu kita tahu bagaimana perkembangan gereja. Dari gereja yang sederhana menjadi gereja yang besar seperti sekarang ini, kita patut mensyukuri kebaikan Tuhan.
Pada kesempatan tersebut Mgr FX Prajasuta berterima kasih dan menyatakan penghargaan kepada:
- Umat di paroki Kelayan atas kebaikan-kebaikannya.
- Para pastor, biarawan dan biarawati yang mendampingi umat.
- Umat yang telah berbuat banyak dalam berkarya di paroki, terutama pada umat yang setia mendoakan beliau.
- Umat yang menerima beliau sebagaimana adanya. Menyadari bahwa banyak kesalahan dalam pelayanan beliau, beliau minta maaf pada seluruh umat.
Untuk meningkatkan kehidupan umat di paroki agar keuskupan Banjarmasin semakin berkembang, maka Mgr FX Parajasuta mengharapkan beberapa hal sbb:
- Keluarga-keluarga sungguh-sungguh berusaha untuk menjadi keluarga Katolik yang baik. Orang tua tidak hanya memberikan nasihat atau teladan, tapi juga menciptakan suasana Kristiani dalam keluarga dengan membiasakan doa dalam keluarga.
- Agar anak-anak berbahagia, maka suami dan istri hendaknya saling mencintai satu sama lain.
- Perlu ada kebanggaan dan kegembiraan menjadi murid-murid Kristus. Kebanggaan dan kegembiraan ini diwujudkan dengan mewartakan Kristus pada orang lain sehingga paroki Kelayan menjadi paroki yang misioner, baik dalam keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat.
- Umat saling mendoakan satu sama lain dan terutama mendoakan para pastor, biarawan, biarawati agar mereka semakin dekat pada Tuhan.
- Di paroki Kelayan, kegiatan sangat banyak, namun demikian persatuan dan kerukunan harus di atas segala-galanya.
Pada akhir homilinya, Mgr FX Prajasuta menyatakan bahwa beliau akan selalu ingat pada umat keuskupan Banjarmasin, terutama dalam doa-doanya.
Setelah doa penutup, ketua I Dewan Paroki, Bp. Willy Sebastian dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas pelayanan Mgr FX Prajasuta di keuskupan Banjarmasin, dan sebagai tanda kasih umat di paroki Kelayan, 7 ketua wilayah memberikan kenang-kenangan pada Mgr FX Prajasuta pada kesempatan tersebut.
Setelah perayaan ekaristi berakhir, umat diberikan kesempatan untuk mengucapkan selamat jalan pada Mgr FX Prajasuta di depan pastoran. (smr)

Rabu, 12 November 2008

PERAYAAN EKARISTI ULANG TAHUN PAROKI KE 69


“Hari ini kita merayakan ulang tahun paroki ke 69 dengan perayaan ekaristi. Mengingat beberapa kegiatan sebelumnya yang sangat padat, maka ulang tahun paroki kali ini kita rayakan secara sederhana. Tanpa soto dan tanpa sate! Kita bersyukur atas penyertaan Tuhan sepanjang 69 tahun perjalanan paroki. Pada kesempatan ini kita juga mengenang perjuangan para pendahulu kita, baik uskup, pastor, suster, bruder dan awam yang telah membangun dan berjuang sehingga paroki tumbuh menjadi seperti sekarang ini.” Demikian kata pembukaan dari romo Allparis pada perayaan ekaristi ulang tahun paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda yang dilaksanakan pada tanggal 11 November 2008 pukul 19.00 WITA.
Sebagian besar bangku gereja dipenuhi oleh umat yang hadir pada perayaan ekaristi ulang tahun paroki yang dipimpin oleh romo Allparis dan romo Lioe Fut Khin itu. Beberapa umat secara sukarela mengisi bangku koor untuk memadahkan pujian yang diiringi dengan organ yang dimainkan oleh Kevin. Bacaan pertama dibawakan oleh Bp. Fl. Sudarmo.
Dalam homilinya, romo Fut menyatakan kekagumannya pada umat yang hadir saat itu karena tidak menyangka bahwa hampir seluruh bangku gereja terisi. Dengan banyaknya umat yang hadir berarti banyak orang yang mencintai paroki dan pada malam itu semua bersama-sama berdoa, bersyukur dan merenungkan penyertaan Tuhan.
Umur 69 tahun, Kalau dilihat menurut ukuran perjalanan manusia merupakan umur yang cukup tua. Seseorang yang sudah tua biasanya hidup dalam kesederhanaan namun sehat dalam iman. Dalam bacaan pertama yang diambil dari Titus 2:1-8,11-14 terdapat nasihat terhadap perempuan-perempuan tua yang hendaknya hidup dengan banyak berdoa, tidak memfitnah dan tidak menjadi hamba anggur. Yang tua hendaknya dapat memberi nasihat dan teladan. Dalam hidup berjemaat, umat yang sudah tua pun masih punya arti dan berguna untuk perkembangan paroki dan iman umat karena yang muda masih memerlukan nasihat dari mereka.
Ada pepatah pada renungan hari Pahlawan, tgl 10 November 2008 kemarin, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya.” Dari pepatah ini muncul ide untuk memberikan penghargaan pada orang-orang yang sudah berjasa bagi paroki kita. Ada banyak orang-orang yang telah berjasa pada perkembangan paroki karena pelayanan, pengabdian, teladan dan cintanya, baik itu pastor, katekis maupun awam. Untuk itu umat diminta menulis tentang orang-orang tersebut beserta fotonya dan mengirimkan ke Bupar untuk dimuat.
Selanjutnya romo Fut mengajak umat memohon dan berdoa pada Tuhan agar kita semua makin mencintai gereja dan Tuhan. (smr)

Kamis, 23 Oktober 2008

HOMILI PASTOR: MINGGU MISI - 19 Oktober 2008

“KITA WARGA NEGARA DAN WARGA KERAJAAN ALLAH"
(Catatan Homili Romo Ign. Allparis F, Pr pada Minggu Misi Sedunia, 19 Oktober 2008)

Secara umum, misi berarti perutusan. Dalam gereja Katolik berarti mewartakan Injil atau Kabar Gembira. Kabar gembira yang diwartakan adalah Yesus. Misi ini dimulai dari Allah sendiri dengan mewartakan Kabar Gembira, yaitu dengan mengutus Yesus untuk menyelamatkan manusia. Teladan Allah ini selanjutnya diteruskan oleh manusia dengan mewartakan Kabar Gembira atau Yesus. Dalam hal ini Yesus bukan hanya sebagai yang diutus tapi Yesus adalah Kabar Gembira itu sendiri.
Dalam Injil Matius 22:15-21, Yesus akan dijerat oleh orang Farisi dengan pertanyaan, "Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak?" Pada saat itu hadir orang-orang Herodian atau anak buah Herodes yang merupakan kelompok pro penjajah atas orang-orang Yahudi. Bila Yesus menjawab tidak, maka orang-orang Herodian ini akan melaporkan kepada Herodes dan Yesus dianggap memberontak. Tetapi bila Yesus menjawab boleh, maka hal itu tidak mencerminkan ketaatan-Nya pada tugas-Nya di dunia. Pada saat itu, dengan pujian orang-orang Farisi menjerat Yesus. Namun Yesus tahu apa yang ada dalam hati manusia dan kemudian menegur mereka secara langsung, "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?" Jawaban Yesus selanjutnya, "Berikanlah kepada kaisar yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah yang menjadi hak Allah." Yesus tahu bahwa orang-orang Yahudi keberatan untuk membayar pajak. Jawaban ini sekaligus untuk mengajar orang-orang Yahudi.
Refleksi bagi kita adalah, "Apa yang kita berikan yang menjadi hak Allah?" Mungkin dalam dunia ini banyak orang tak menemukan tanda dan gambar Allah, sehingga menganggap semua adalah milik-Nya, sehingga tak tahu lagi apa yang seharusnya dikembalikan kepada Allah dan yang menjadi hak Allah. Manusia diciptakan secitra dengan Allah. Kita harus menyadari terus-menerus. Yesus adalah Gambar Allah yang sempurna. Dalam Dia, kita menemukan gambar dan tulisan Allah. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita memancarkan wajah Yesus dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai bentuk usaha untuk mengembalikan hak Allah. Untuk itu kita, sebagai gereja, dipanggil untuk mengambil bagian dalam misi Allah, yaitu agar banyak orang mendapat keselamatan dalam diri Yesus. Bagi orang-orang Kristiani yang melakukan kekerasan, apapun bentuknya, maka pada saat itu mereka tidak mencerminkan citra Allah dan tidak mengembalikan hak Allah apa yang menjadi hak Allah. Sebagai manusia yang diciptakan secitra dengan Allah, maka wajah Allah harus tercermin dalam hidup sehari-hari. Itulah hak Allah yang harus dikembangkan. Secara kongkrit bisa dijabarkan kembalikan hak istri apa yang menjadi hak istri, kembalikan hak suami apa yang menjadi hak suami, kembalikan hak anak apa yang menjadi hak anak, kembalikan hak karyawan apa yang menjadi hak karyawan, kembalikan hak perusahaan apa yang menjadi hak perusahaan, kembalikan hak pembatu apa yang menjadi hak pembantu, dll. Semua itu sebagai wujud mengembalikan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.(smr)

Minggu, 12 Oktober 2008

PERAYAAN EKARISTI PEMBERKATAN GUA MARIA

Cuaca cerah sejak hari Senin, 6 Oktober 2008 membuat lega seluruh umat paroki karena ini berarti perayaan ekaristi dapat dilakukan di muka Gua. Panggung untuk altar mulai dipersiapkan, dekorasi dibuat, terpal dan karpet dihampar, tata suara dan lampu pun mulai dirangkai hingga hari Selasa 7 Oktober 2008 pukul 18.00 WITA Doa rosario yang mendahului perayaan ekaristi pemberkatan gua dapat dimulai tepat pada waktunya.
Perarakan patung Bunda Maria yang dibawa dengan tandu oleh 7 ketua wilayah dan ketua I dewan paroki, diikuti rombongan imam dan uskup Banjarmasin, Mgr. FX Prajasuta, MSF, beserta lektor dan pemazmur dari pendopo Santo Yosef menuju Gua Maria yang akan diberkati mengawali perayaan ekaristi pemberkatan Gua Maria paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda. Sementara perarakan berlangsung, PSP Serafim dan umat mengidungkan lagu “Ave-Ave” dengan memegang lilin yang menyala di tangan masing-masing.
Perayaan ekaristi tersebut dilaksanakan bertepatan dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Ratu Rosari, 7 Oktober 2008 dengan dipimpin oleh Mgr. FX Prajasuta, MSF sebagai konselebran utama didampingi oleh romo Ignatius Allparis Freeanggono, Pr dan romo Aloysius Lioe Fut Khin, MSF. Sekitar 1,000 umat mengikuti perayaan ekaristi dengan duduk lesehan di atas karpet. Sementara itu para lansia duduk di kursi yang telah disediakan.
Dalam homilinya Mgr. FX Prajasuta, MSF menyatakan bahwa dengan devosi pada Bunda Maria berarti kita meneladani Bunda Maria dalam kerendahan hati dan kesetiaannya untuk tunduk pada kehendak Allah. Dengan kesadaran bahwa hanya Allah yang tahu apa yang terbaik bagi kita, maka seperti Bunda Maria, kita hendaknya dapat mengucapkan “Fiat Voluntas Tua” atau terjadilah menurut kehendak-Mu. Dalam keadaan apapun Maria tetap mengidungkan “Magnificat,” hatinya selalu memuji dan memuliakan Tuhan. Pada malam ini kita bersama-sama memohon berkat untuk Gua Maria St Maria YTTN. Ini berarti sebagai anak-anak kita datang pada ibu kita untuk meneladan dan berserah diri pada kehendak Allah. Orang yang sungguh-sungguh berdevosi pada Bunda Maria hidupnya ditandai dengan kegembiraan, kepasrahan dan kedamaian seperti Maria. Malam ini kita juga bersyukur atas Gua Maria St Maria YTTN yang baru selesai dibangun. Semoga dengan Gua Maria tersebut, umat khususnya umat paroki Kelayan makin dekat dengan Maria dan Yesus. Iman umat makin dikokohkan serta makin cinta Yesus dan hidup sesuai martabat kita yang telah diselamatkan oleh Yesus. Selanjutnya Bapak Uskup mengajak umat untuk bersama-sama mohon berkat Tuhan bagi patung dan gua dan berharap dengan perantaraan Maria, umat dapat berdoa dengan penuh kasih pada Yesus serta menjadikan Maria sebagai ibu, pelindung dan teladan. Kita juga mohon pada Bunda Maria untuk menuntun dan membimbing umat agar makin cinta pada Yesus.
Usai homili, Bapak Uskup memberkati patung Bunda Maria dan Gua Maria dan kemudian dilanjutkan dengan liturgi ekaristi.

Selasa, 07 Oktober 2008

PEMBEKALAN PEMIMPIN IBADAT KOMUNITAS (BAG 3): MEMPERSIAPKAN RENUNGAN

Melanjutkan rangkaian Pembekalan Pemimpin Ibadat Komunitas yang telah dilakukan pada bulan Agustus yang lalu, pada hari Senin, tanggal 6 Oktober 2008 pukul 20.00 – 21.30 WITA di pendopo Santo Yosef diselenggarakan pembekalan lanjutan yang dipimpin oleh romo Aloysius Lioe Fut Khin, MSF. Pembekalan kali ini dikhususkan pada teknik mempersiapkan renungan. Keduapuluh dua peserta yang berasal dari 14 komunitas langsung diajak praktek cara mempersiapkan renungan yang diambil dari bacaan Injil hari itu, yaitu dari Lukas 10:25-37 mengenai “Orang Samaria yang Murah Hati” yang kemudian dilanjutkan dengan bacaan Injil keesokan harinya, yaitu dari Lukas 10:38-42 mengenai “Maria dan Marta.” Sambil praktek, romo Fut menekankan bahwa dalam membawakan renungan atau kotbah, kita mewartakan kabar gembira dari Tuhan. Tahap-tahap yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan renungan adalah:
1. Doa, memohon bimbingan Tuhan.
2. Membaca secara keseluruhan bacaan yang akan dibawakan dalam renungan.
3. Membaca bacaan dengan lebih cermat dan lebih mendalam
4. Membuat pertanyaan untuk hal-hal yang tidak dimengerti, seperti: apa maksud peristiwa tsb, mengapa terjadi demikian, bagaimana hal tsb terjadi, dsb.
5. Merenungkan apa yang menarik dari bacaan tersebut, bisa berupa ayat, pesan, peristiwa, dll.
6. Kembangkan ide atau hal-hal menarik dengan ayat-ayat lain yang mendukung, bisa juga ditambahkan cerita, sharing, contoh nyata, dsb.
Ternyata mempersiapkan renungan tidak sulit! Pembekalan berikutnya akan diadakan pada hari Senin, 3 November 2008 dengan diawali renungan atau kotbah yang dipimpin oleh perwakilan dari wilayah Bernadeth. (smr)

LOMBA CERDAS CERMAT KITAB SUCI ANTAR WILAYAH

Dalam rangka memeriahkan Tahun Paulus, dengan mengambil tema Bulan Kitab Suci Nasional 2008 ”Paulus: Sukacita Rasul Kristus,” maka digelar acara Lomba Cerdas Cermat Kitab Suci Antar Wilayah yang dilaksanakan pada hari Minggu, 5 Oktober 2008 di Aula Syalom pukul 10.00 – 12.00 WITA. Lomba yang diikuti oleh 6 Wilayah ini bertujuan mengenal lebih dekat semangat rasul Paulus dalam mewartakan Injil serta mengajak umat untuk lebih mencintai Kitab Suci.
Sebagai salah satu agenda program kerja KOMKA, acara tersebut telah dipersiapkan secara menarik dengan dukungan 2 LCD untuk menayangkan pertanyaan-pertanyaan yang dilempar kepada peserta dan untuk memonitor waktu. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berkisar kisah rasul Paulus dan surat-surat yang ditulisnya serta bahan-bahan seputar Bulan Kitab Suci Nasional 2008. Lomba tersebut terbagi dalam 3 babak. Babak I adalah pertanyaan untuk masing-masing individu dalam kelompok. Babak II adalah pertanyaan untuk kelompok dan yang terakhir adalah pertanyaan rebutan. Setelah pertanyaan demi pertanyaan diajukan, akhirnya diperoleh pemenang sbb:
Juara I : Wilayah Anna
Juara II : Wilayah Lucia
Juara III : Wilayah Sisilia
Sebelum acara ditutup dengan pembagian hadiah pada pemenang lomba, selaku ketua Dewan Juri, Bp. Anton DN menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas partisipasi peserta lomba Cerdas Cermat dan kepada KOMKA Santa Maria sebagai pelaksana acara lomba. Melihat pencapaian nilai yang diperoleh masing-masing peserta, dihimbau umat lebih tekun dalam membaca dan menggeluti Kitab Suci.
Errie dan Rachel sebagai peserta dari wilayah Anna mengaku enjoy dengan acara lomba tersebut, apabila kelompoknya menjadi juara I. Sementara itu Pak Narko sebagai peserta dari wilayah Theresia menyatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diberikan sulit untuk dijawab karena kelompoknya harus bertanding tanpa persiapan sebelumnya. (smr)