Senin, 29 Maret 2010

MINGGU PALMA : Bersedia Mengikuti Tuhan Yesus dalam Penderitaan-Nya


Minggu pagi, 28 Maret 2010, perayaan Ekaristi Minggu Palma di awali dari halaman depan Gua Maria. Perarakan pastor, misdinar dan petugas liturgi disambut umat dengan daun palma di tangan. Rm. Al. Lioe Fut Khin, MSF berkeliling memberkati daun palma yang melambai-lambai menyuarakan suasana “Yerusalem Lihatlah Rajamu.” Injil Lukas (19:28-40) dibacakan Romo, dan perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan perarakan menuju gereja.

Pesan Minggu Palma

Dalam homili singkat, romo Fut menyatakan bahwa umat Katolik membuka pekan suci dengan Minggu Palma. Pekan Suci merupakan pekan penderitaan untuk mengenangkan sengsara Yesus. Apa yang dialami dan dilakukan Yesus dalam sengsara merupakan tawaran bagi kita, “Inilah jalan menuju Bapa” Bila kita menerima tawaran itu berarti kita mengikuti Yesus dalam penderitaan-Nya.

Minggu Palma bukanlah upacara yang menyusahkan umat di mana umat harus mengikuti perayaan ekaristi yang lebih lama dari biasanya dan capai berdiri di luar sebelum masuk ke dalam gereja. Dalam upacara Minggu Palma kita diajak untuk memperagakan sedikit apa yang dialami Yesus. Sebenarnya sejak Rabu Abu kita mau mengikuti Yesus dalam penderitaan-Nya dan bukan cari-cari masalah.

Dalam kehidupan sehari-hari, derita mengikuti Yesus dapat kita alami kapan saja, sebagai contoh:

- Derita dialami oleh seorang istri yang setia dan penuh cinta merawat suaminya yang sakit selama bertahun-tahun.

- Derita dialami oleh suami yang ingin mempertahankan perkawinan dengan meminta maaf meskipun berkali-kali ditolak oleh sang istri.

- Derita juga bisa dialami oleh pegawai yang tidak bisa naik pangkat karena dia seorang pengikut Yesus.

Penderitaan seringkali membuat seseorang makin dekat dengan Yesus. Namun tidak selalu demikian. Ada beberapa macam penderitaan yang dialami manusia:

1. Penderitaan karena dosa

Contoh: Pencuri yang dipukuli massa.

2. Penderitaan karena orang lain

Contoh: Ayah dan ibu yang bekerja keras untuk membiayai anak-anaknya.

Yesus dan Musa mengalami hal ini.

3. Penderitaan karena misteri atau penderitaan yang tiadak diketahui apa sebabnya.

Contoh: Orang yang mengalami sakit kanker, kena musibah atau bencana alam, dst.

Bila dalam penderitaan seseorang tetap setia dan imannya teruji seperti Ayub maka penderitaan itu membuat seseorang makin dekat dengan Tuhan.

Menutup homili, romo Fut mengajak umat dalam pekan suci untuk mengikuti Tuhan dalam penderitaan-Nya agar mengalami berkat dan rahmat yang semakin besar. (smr)

Sabtu, 27 Maret 2010

JADWAL PEKAN SUCI 2010

1. Perayaan Ekaristi Minggu Palma:
a. Minggu pagi, 28 Maret 2010, jam 08.00 wita
b. Minggu sore, 28 Maret 2010, jam 18.00 wita

2. Perayaan Ekaristi Kamis Putih:
Kamis sore, 1 April 2010, jam 19.00 wita
Dilanjutkan tuguran

3. Ibadat Jalan Salib:
Jumat pagi, 2 April 2010, jam 08.00 wita

4. Perayaan Ekaristi Jumat Agung:
Jumat sore, 2 April 2010, jam 15.00 wita

5. Perayaan Ekaristi Malam Paskah:
Sabtu malam, 3 April 2010, jam 20.00 wita

6. Perayaan Ekaristi Paskah pagi:
Minggu pagi, 4 April 2010, jam 08.00 wita

Kamis, 12 November 2009

"Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan" (1 Kor 3:6)

11 November, 70 tahun yang lalu, sebuah benih telah ditanam. Siapapun tidak akan pernah
mengerti bagaimana pertumbuhan benih itu nantinya, bahkan tidak ada yang tahu
apakah mereka menanam benih di tanah subur, bebatuan, pasir ataupun di tengah semak duri.

Seiring perjalanan waktu, mereka yang telah menanam benih baru mengerti bahwa apa yang
mereka lakukan mengandung pengorbanan yang besar. 3 tahun kemudian, mereka
mengalami penderitaan yang luar biasa, dikejar-kejar, ditawan, disiksa, bahkan
ada yang dibunuh. Satu hal yang pasti, mereka tetap teguh dalam pengabdian dan
karya mereka untuk merawat dan memelihara benih itu agar terus tumbuh dan
berkembang.

Api pengabdian terus berpijar dalam diri para penanam benih dan diteruskan pada generasi
berikutnya…berikutnya…hingga saat ini kita menikmati panenan dari benih yang
ditanam. Kita patut bersyukur pada Tuhan yang telah memberikan pertumbuhan dan
berterima kasih pada mereka yang telah menanam dan memelihara benih. Namun yang
menjadi pertanyaan, akankah kita berpuas diri mendapati panenan yang diperoleh
dari keringat, air mata dan darah dari para penanam dan pemelihara benih? Atau apa
kita berbuat sesuatu terhadap panenan tadi sehingga menghasilkan panenan yang
lebih melimpah?

Benih itu
adalah panji Kristus yang ditegakkan dalam sebuah paroki yang diberi nama Santa
Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda. Menjadi sebuah keajaiban bila kita
merenungkan bagaimana sebuah gereja dengan jumlah umat yang mampu ditampung
dalam 1 bangku berukuran panjang 3m menjadi 2000-an jiwa dan 600-an KK. Semua
terletak dalam kasih dan kuasa Sang Pemberi Pertumbuhan.

Seperti juga para perintis dan para pendahulu yang telah berkarya di paroki, kita tidak tahu
apa yang akan terjadi pada paroki nantinya. Satu tahun, sepuluh tahun, apalagi
tujuh puluh tahun kemudian, apa yang
akan dialami paroki? Kita tidak tahu, kita bagai orang buta! Namun
apakah kita hanya berdiam diri dan menunggu? Benih itu perlu disiram dan
dipelihara….

Selamat Ulang Tahun ke-70 Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda,
Banjarmasin. Semoga kehadirannya semakin menjadi tanda dan harapan bagi banyak orang!

Senin, 17 Agustus 2009

Perayaan Ekaristi HUT Kemerdekaan Indonesia ke-64


Ringkasan Homili Rm. Allparis,Pr
Bacaan: Sir 10:1-8; I Ptr 2:13-17; Mat 22:15-21

Masyarakat merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI dengan berbagai macam kegiatan : dengan doa & renungan, makan bersama, upacara bendera dan berbagai perlombaan. Perlombaan seperti panjat pinang dan sejenisnya mencerminkan nilai perjuangan dan kerjasama. Pada hakekatnya sama dengan nilai negara ini memerlukan perjuangan untuk kemerdekaannya. Namun demikian ada yang mengisi perayaan kemerdekaan dengan kegiatan yang keliru misalnya tirakatan dengan mabuk-mabukan.

Gereja sudah lama mencanangkan semboyan Pro Ecclesia et Patria : untuk gereja dan negara yang artinya warga negara 100% dan warga gereja 100%. Karya gereja bukan hanya untuk perkembangan rohani saja namun juga untuk membangun negara. Oleh karena itu sangat tepat sekarang semboyan Pro Patria per Ecclesia yakni untuk negara melalui gereja. Jangan sampai terjadi seseorang aktif di komunitas dan gereja namun tidak ikut serta dalam gotong royong kampung.

Kita berproses sebagai warga gereja dalam perjalanan sejarah berbangsa dan bernegara. Gereja merenungkan: apa yang gereja berikan untuk bangsa ini dan apa yang kita berikan untuk bangsa ini.
Kita berdoa untuk negara ini sehingga proklamasi kemerdekaan semakin nyata. Kemerdekaan diisi dengan kejujuran, keadilan dan cinta kasih. (zo)

Selasa, 11 Agustus 2009

Rangkaian HUT ke-70 Paroki: Lomba Catur Beregu

Sementara di pendopo Santo Yosef dilaksanakan Lomba Memasak oleh Bapak-Bapak, di Aula Syalom pada hari Minggu, 9 Agustus 2009 dilaksanakan pertandingan catur beregu antar wilayah. Pertandingan ini cukup unik karena 5 orang dalam 1 regu menggerakkan buah catur secara bergiliran tanpa ada komunikasi satu sama lain. Menurut Bp. Andreas Sunarko selaku koordinator lomba, lomba ini bertujuan memupuk kebersamaan dan kerjasama.
Meskipun masing-masing orang hanya diberi waktu 30 detik untuk berpikir sebelum menggerakkan buah catur namun pertandingan catur yang diikuti oleh 6 wilayah ini berlangsung cukup lama mulai pukul 10.00 Wita sampai dengan 13.00 Wita. Pertandingan ini dimenangkan oleh wilayah Lucia. (smr)

Rangkaian HUT ke-70 Paroki: Lomba Memasak oleh Bapak-Bapak

Mengawali rangkaian kegiatan menyambut Hari Ulang Tahun Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda yang ke-70, pada hari Minggu, 9 Agustus 2009 pukul 09.30 Wita bertempat di pendopo Santo Yosef telah dilaksanakan Lomba Memasak oleh Bapak-Bapak. Lomba ini diikuti oleh 6 wilayah, masing-masing wilayah diwakili oleh 3 orang bapak-bapak. Panitia menyiapkan bahan dan bumbu yang akan dimasak oleh peserta dan peserta diberi kebebasan menentukan menu masakan dengan bahan yang ada.
Bahan-bahan yang dibagikan panitia adalah daging ayam, sayur-sayuran, mie, telor dan bumbu. Menurut tata tertib lomba yang dibacakan oleh ibu Trombine selaku koordinator lomba masak-memasak, semua bahan harus habis dimasak tapi bumbu tidak harus dihabiskan. Waktu memasak dan meyajikan adalah 25 menit. Kriteria penilaian meliputi rasa, kekompakan dan kebersihan.
Aneka macam rasa yang dihasilkan masing-masing peserta. Wilayah Theresia menggunakan bahan-bahan tsb untuk membuat capcay dan mie goreng. Wilayah Martha menyajikan mie goreng dan telur dadar, sementara itu wilayah Elisabeth membuat mie goreng rasa rica-rica. Suasana terasa meriah dan akrab. Berkali-kali panitia harus memperingatkan penonton yang memberikan instruksi pada para peserta.
Setelah 25 menit berlalu, semua wilayah menyelesaikan masakannya. Suster Merry, Suster Margreit dan Frater Yohanis selaku juri berkeliling dari meja yang satu ke meja yang lain untuk mencicipi masakan dan memberikan penilaian. Berdasarkan penilaian juri maka diperoleh pemenang sbb:
Juara I: Wilayah Theresia,
Juara II: Wilayah Martha,
Juara III: Wilayah Anna.
Mengakhiri Lomba Memasak, hasil karya bapak-bapak tersebut dilelang untuk dana kegiatan 70 Tahun Paroki. (smr)

Sabtu, 08 Agustus 2009

Menyambut HUT Paroki ke-70

Damai bagimu,
Paroki Kelayan akan merayakan Ultah-nya yang ke 70 tahun ini.
Kegiatan ini mengambil tema "Gereja menjadi tanda harapan bagi masyarakat".
Ada beberapa rangkaian kegiatan yaitu :
1. Lomba-lomba :
a. Lomba Catur Beregu : 9 Agustus 2009
b. Lomba Memasak oleh Bapak-Bapak : 9 Agustus 2009
c. Lomba Mengumpulkan foto Jaman Dahulu (JADUL) : paling lambat dikumpul 9 September 2009
d. Lomba Outbound Keluarga : 13 September 2009
e. Lomba Menulis tentang menghayati kehidupan berparoki : paling lambat dikumpul 15 September 2009
f. Lomba Cerdas Cermat kitab suci dan pengetahuan seputar paroki : 4 Oktober 2009
g. Lomba Khotbah : 4 Oktober 2009
h. Lomba Vocal Group : 10-11 Oktober 2009
i. Lomba meniru gaya sesepuh paroki : 18 Oktober 2009
2. Kegiatan Sosial
a. Misa LanSia dan ramah tamah : 25 Oktober 2009
b. Donor darah, bazar, dan memberikan makanan tambahan bagi bayi dan balita : 1 November 2009
c. Jalan Santai sambil mungut sampat : 17 Agustus 2009
3. Kegiatan Lain
a. Penerbitan buku kenangan
b. Pembuatan Baju kaos 70 tahun paroki
semua kegiatan tersebut akan ditutup dengan Misa Syukur dan pentas seni di tanggal 14 November 2009.
Mohon doa dan dukungan dari semua pihak atas terselenggaranya kegiatan ini semua, semoga kegiatan ini terlaksana dengan sebagainya mana mestinya dan tema kegiatan ini yaitu "Gereja menjadi tanda harapan bagi masyarakat" dapat kita jadikan sebagai hal yang nyata. AMIN